Picture

Pak Pakar yang duduk di belakang memakai kaos putih.
Tanggal 12 Desember 2016 yang lalu, ada info masuk di WAG kalau Pak Pakar sakit dan dirawat di ICU karena stroke dan gangguan irama jantung. Dan tanggal 15 Desember 2016, saya dan Vita berkesempatan untuk menengok Pak Pakar yang sudah pindah ke ruang rawat biasa. Saat itu beliau masih sadar dan merespon walaupun tidak bisa berbicara. Beliau juga masih bisa tersenyum mendengar pembicaraan dan candaan kami dan juga ketika kami sampaikan salam dari teman-teman yang berhalangan untuk membesuk. Sebelum pulang, saya sempat berpesan supaya beliau segera pulih dan pulang sehingga kami bisa tengok lagi di rumah. Keesokan harinya saya mendapat kabar bahwa beliau pindah rawat ke RS Fatmawati.

Sayangnya itu adalah hari terakhir saya bertemu dengan beliau. Beliau tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Pagi ini sekitar pukul 6, saya mendapat berita dari Mbak Siska, putrinya, kalau beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Segera saya mengabarkan ke teman-teman yang lain melalui WAG dan Facebook mengenai kepergian beliau. Rencana ke kantor hari ini saya batalkan. Saya berencana untuk pergi melayat ke rumah duka di daerah Bintaro. Beliau disemayamkan di rumah adiknya yang berada tidak jauh dari rumah beliau. Saya dan Vita berjanji bertemu di sekitar Bintaro dan ke rumah duka bersama-sama. Kali ini Yani ikutan melayat. Ketika kami sampai di rumah duka, jenazah sudah mau dibawa ke mesjid untuk dishalatkan dan kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Kami putuskan untuk langsung menuju ke pemakaman dan menunggu di sana. Alhamdulilah saya bisa mengantar beliau hingga peristirahannya terakhir.

Pak Pakar termasuk salah satu orang yang berjasa membentuk saya seperti saat ini, selain orangtua saya tentunya. Kalau saya tidak ikut program pertukaran pelajar Open Door ini mungkin saya masih orang yang introvert dan tertutup.

Saya pertama kali bertemu dengan Pak Pakar ketika saya mengambil formulir program pertukaran pelajar di Jalan Teluk Betung (tempat itu sekarang sepertinya sudah jadi waduk di belakang Mall Grand Indonesia). Ketika itu saya hendak mengambil formulir program pertukaran pelajar Rotary. Tapi beliau memberikan juga formulir program pertukaran pelajar Open Door (sekarang: Nacel Open Door). Karena rencana awal adalah ikut program Rotary, jadilah saya menyiapkan seluruh persyaratan yang diperlukan termasuk rekomendasi dari anggota Rotary Club dan surat izin dari sekolah untuk mengikuti program ini yang ditandatangani oleh kepala sekolah yang waktu itu adalah Pak Arief Rachman. Kesibukan Pak Arief yang menjadi kepala sekolah di dua sekolah dan mengajar di IKIP saat itu, membuat saya sulit untuk mendapat tanda tangannya. Formulir dan persyaratan lainnya saya kembalikan ke kantor 1 minggu sebelum deadline. Dan ketika mengembalikan formulir, Pak Pakar menyarankan saya untuk mengikuti Program Pertukaran Pelajar Open Door karena kemungkinan diterimanya lebih besar. Jadilah saya ulang lagi seluruh prosedur mengisi formulir dan meminta tanda tangan Pak Arief.

Akhirnya setelah melewati seluruh tes yang diselenggarakan, saya berangkat ke Church Hill, Tennessee, USA selama 10 bulan.

Setelah pulang dari Amerika, saya aktif sebagai volunteer di program pertukaran pelajar ini. Kami membantu pengurus mempersiapkan adik-adik yang akan berangkat pertukaran pelajar. Mulai dari pre-orientasi, orientasi, dan re-orientasi. Dan sebagai volunteer, kami tidak dibayar sepeser pun. Biaya transportasi ke tempat acara pre-orientasi kami tanggung  sendiri. Dan Pak Pakar biasanya membelikan kami makan siang. Mungkin beliau tidak tega kalau kami harus beli makan sendiri. Sehingga tinggal sebut saja kami mau makan siang apa, Pizza Hut, McD, Hoka-Hoka Bento, Teh Botol, Coca Cola dan minuma bersoda lainnya. Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan kami. Hal ini berlangsung selama sekitar 13 tahun sampai kantor pindah ke lokasi baru di Bintaro.

Salah satu tanda sayangnya pada kami, beliau selalu menanyakan pada kami di mana kami mau mengadakan orientasi. Orientasi NOD biasanya dilakukan di luar kota supaya terhindar dari gangguan orang tua dan bisa konsentrasi selama orientasi. Pilihan tempatnya adalah di Puncak atau Labuan. Biasanya kami pilih Labuan karena tempatnya luas dan enak untuk beraktifitas serta berlibur.

Pak Pakar bisa dibilang salah satu fans saya. Beliau sampai memberikan nama Retia pada salah seorang cucunya :). Saking sayangnya beliau pada saya, pernah ketika saya mengantarkan Yani mengembalikan formulir ke kantor baru di daerah Kebon Sirih, saya dikasih ongkos taksi pulang karena ketika sampai kantor beliau melihat saya dan Yani berkucuran keringat dan muka merah karena habis jalan ditengah hari bolong :p Kami jalan kaki dari perempatan Menteng–Kuningan sampai Plaza Indonesia di siang bolong. Lalu lanjut jalan kaki dari depan BI sampai kantor. Tapi karena kami sudah terbiasa naik bis, jadilah kami makan siang di McD dan pulang naik bis 😀 Maaf ya Pak Pakar, laper soalnya abis jalan jauh 😉 Dari kantor ke Sarinah tetep jalan kaki 😀

Beberapa bulan sebelum beliau masuk rumah sakit, beberapa orang returnee NOD termasuk saya berkunjung ke rumah Pak Pakar. Dia menyampaikan kepada Doddy kalau dia kangen sama kami, karena memang sudah lama beliau tidak mampir ke kantor. Kami datang membawa makanan untuk makan siang bersama. Kami berbincang-bincang dan bercanda. Wajahnya gembira sekali melihat kedatangan kami walaupun beliau merasa nyeri di persendiannya. Kami berjanji akan berkunjung lagi dilain kesempatan. Sayangnya janji itu terpenuhi hanya untuk melihat beliau terakhir kalinya.

Tidak ada lagi Pak Pakar yang mendukung kegiatan kami. TIdak ada lagi Pak Pakar yang bercanda dengan kami. Tidak ada lagi Pak Pakar yang minta dibelikan rokok dan selalu saya tolak mentah-mentah 🙂 We love you :* Semoga husnul khotimah, dilapangkan kuburnya dan dijauhkan dari siksa kubur. Aamiin…

*ditulis sambil berlinang air mata :((

Picture

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *