Seperti janji di awal tahun ini, maka saya mulai menuliskan cerita-cerita perjalanan yang harusnya sudah lama ditulis. 

Hari ini terakhir di Jenewa (29/4/12)… Yeah… sudah saatnya pulang kembali ke Jakarta. Saatnya cari duit lagi ūüôā

Perjalanan pulang kami ke Indonesia diakhiri dengan perjalanan ke Italia. Karena ada teman Wira di WHO yang mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya di Italia, akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Indonesia dari Italia. Tiket pesawat sudah dipesan untuk keberangkatan dari Milan. Sebelumnya kami akan berkunjung ke rumah Costanza di Castel Marte dan menginap disana semalam. Castel Marte sekitar 1 jam perjalanan dari kota Milan.

Kami berangkat ke Milan menggunakan kereta api. Berangkat pagi-pagi buta dari rumah Mardi di Petit Lancy menggunakan taksi. Taksi di pagi hari seperti ini harus dipesan dari malam sebelumnya dan harganya pun lebih mahal. Apalagi kami membawa koper, ada charge ekstranya juga. Kenapa naik taksi? Soalnya kami berangkat sekitar jam 5.30 pagi dari Jenewa sementara trem dari Petit Lancy baru mulai jam 6 pagi.

Perjalanan ke Milan memakan waktu sekitar 4 jam dan kami akan bertemu dengan Constanza di stasiun Milan. Udara musim semi menemani perjalanan kami pagi itu. Dengan mata masih terkantuk, kami berusaha menikmati pemandangan pohon-pohon yang mulai menghijau kembali setelah daun-daun yang berguguran di musim sebelumnya.

Picture

Kami sampai di Stasiun Milan sekitar jam setengah sembilan. Kesan pertama ketika kami turun kereta adalah suasana yang mirip di Stasiun Gambir atau Stasiun Jatinegara. Banyak porter yang menawarkan jasanya untuk mengangkut barang dan juga hiruk pikuk stasiunnya. Ketika kami menuju arah pintu keluar dan mencari Costanza, tercium aroma kopi yang wangi. Karena Costanza tak tampak juga, Wira berusaha menghubungi dan ternyata dia agak telat sampai di stasiun. Tapi tak lama kemudian, ia pun sampai.

Hal pertama yang dilakukan sebelum memulai perjalanan adalah mengunjungi coffee shop di stasiun. Ya…menikmati langsung kopi yang harum di Italia. Well…saya sih tidak minum kopi, hanya menikmati aromanya sja.

Kali ini kami tidak akan berkeliling di Kota Milan. Kami langsung menuju rumah Costanza di Castel Marte. Perjalanan sekitar 1 jam itu dihiasi dengan pemandangan yang indah. Di Castel Marte, kami disambut oleh seekor anjing lucu (dari jauh) dan besar peliharaan keluarga Costanza. Rumah yang nyaman dengan pemandangan menakjubkan. Setelah kami menyimpan barang bawaan yang luar biasa beratnya, kami pun beristirahat sejenak. Sekitar jam 10, Wira dan Costanza menikmati cangkir kopi mereka yang kedua hari ini. Sedangkan saya menikmati secangkir teh hangat. Kami juga menyiapkan bekal makan siang kami untuk perjalanan nanti.

‚ÄčUdara hari ini cukup hangat sehingga kami bisa menggunakan jaket yang cukup ringan. Fleece dan jas hujan hitam saya menjadi pilihan hari ini. walaupun di siang hari hanya tersisa fleece saja yang saya gunakan untuk mengantisipasi cuaca yang tiba-tiba berubah.

Sekitar jam setengah dua belas siang, kami memulai perjalan. Kami akan mengunjungi Bellagio. Selama ini, Bellagio yang saya tahu adanya di kompleks Mega Kuningan :). Jika dilihat di Google Maps, perjalanan dari Castelmarte ke Bellagio hanya memakan waktu sekitar 40 menit. Tapi perjalanan ini memakan waktu lebih dari itu karena kami berhenti di Madonna del Ghisallo terlebih dahulu.

Madonna del Ghisallo adalah sebuah gereja yang saat ini digunakan sebagai sanctuary untuk para pesepeda. Di dalamnya kita bisa melihat berbagai sepeda, jersey, dan foto-foto. Berbagai nama pesepeda dunia baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia bisa dilihat disini. Kalau kamu mengaku sebagai pesepeda, jangan lupa berkunjung ke tempat ini.

Di lokasi yang sama juga terdapat Museo del Ciclismo (Museum Bersepeda). Bangunan dua tingkat berbentuk modern  yang tampak kontras dengan dengan gereja itu dipakai untuk memamerkan sejarah yang berhubungan dengan sepeda. Saat itu saya tidak mengunjungi museumnya karena kami akan makan siang di sini dan melanjutkan perjalanan lagi.

Selain itu, tempat ini dikelilingi oleh pemandangan yang indah sekali. Tak puas-puasnya mata ini memandang. Gunung dan danau mendominasi pemandangan dari puncak bukit ini. Tak lupa saya berusaha mengabadikannya dengan kamera saya. Menikmati pemandangan sambil menikmati bekal makan siang kami, merupakan salah satu cara untuk menghabiskan waktu yang pas. Serasa piknik :).

Setelah makan siang beres, kami melanjutkan perjalanan ke Bellagio. Sisa perjalanan sekitar 20 menit. Mencari parkir di area ini merupakan hal yang menantang. Karena memang saat ini sudah mulai musim turis dan banyak orang yang datang berkunjung ke kota ini. Menurut Costanza, biasanya orang berkunjung ke Bellagio sekitar musim semi hingga awal musim gugur. Karena memang menyenangkan duduk-duduk di teras toko pada saat suhu cukup hangat.

Bellagio adalah sebuah kota yang berada di pinggir Danau Como yang membentuk tanjung dan membuat Lake Como berbentuk huruf Y. Pusat kotanya berada di ujung tanjung. Jalanan di kota ini naik turun karena daerahnya yang berbukit-bukit dan kecil serta banyak tangga. Sangat menarik berkeliling kota ini sambil berjalan kaki, karena memang tidak mungkin untuk kita menggunakan mobil. Beberapa jalan masih bisa dilalui sepeda motor. Banyak toko-toko yang menarik untuk dilihat dan restoran-restoran yang menarik untuk dicoba.

Setelah puas naik turun, melihat dan memotret semua yang menarik untuk mata saya, kami pun memutuskan untuk berhenti di salah satu restoran di tepi danau untuk menikmati gelato. Well… cuaca memang masih cukup dingin untuk segelas gelato, tapi kapan lagi kami mencoba gelato langsung di Italia.

Sementara menunggu pesanan gelato kami datang, saya melanjutkan memotret dari tepi danau. Kita bisa juga naik kapal untuk menikmati Lake Como. Kapal ini menghubungkan Kota Como dan Kota Bellagio. Sayangnya tidak mungkin buat kami mencoba kapal ini, karena kami naik mobil.¬†Akhirnya gelato kami datang dan memang nikmat makan gelato di tempat aslinya ūüôā

Setelah penat mulai hilang, kami kembali ke mobil. Perjalanannya cenderung menanjak dan membuat napas ngos-ngosan.

Dari Kota Bellagio, kami melanjutkan perjalanan ke¬†Kota Como. Perjalanan ke Kota Como yang terletak di ujung barat daya dari danau Como yang berbentuk huruf “Y”¬†memakan waktu sekitar 1 jam. Setelah mencari parkir, kami melewati¬†Porta Torre¬†(menara pertahanan setinggi 40 m yang dibangun pada abad ke-12 yang berada pada gerbang selatan) untuk mencapai bagian dalam benteng. Kesan bangunan tuanya sangat terasa. Jadi bisa membayangkan buku-buku cerita yang saya baca ūüôā Saya tidak terlalu mengeksplor cerita tentang¬†Porta Torre¬†ini. Buat ahli sejarah, mungkin ini hal yang menarik untuk dieksplorasi.¬†

Kami menyusuri jalan-jalan kecil dengan bangunan di kanan kiri jalan. Sebagian dari bangunan-bangunan ini merupakan toko-toko. Dan sampailah kami pada sebuah kedai kopi yang berada diseberang Basilica di San Fedele. Sebelum mulai berkeliling kota, kami mampir di  kedai kopi tersebut. Suasana di kedai kopi ini sangat berbeda dengan kedai kopi ternama yang tersebar di seluruh dunia. Harga secangkir espreso hanya 1 Euro. Dan orang-orang yang minum kopi biasanya hanya berdiri dan meminum cepat kopinya. Tidak banyak yang duduk berjam-jam di kedai kopi. Dan tersedia juga kue-kue yang bisa dimakan dengan gratis. Karena hari ini sudah banyak minum teh, saya memutuskan untuk tidak ikut memesan minuman. Toh mereka juga hanya minum kopi sebentar.

Dari kedai kopi, kami menyeberang dan masuk ke Basilica di San Fedele. Gereja yang berarsitektur Romanika ini dibangun pada abad ke-12.   Dilanjutkan ke Katedral di Como yang dibangun pada abad ke-14. Perjalanan dilanjutkan menuju danau. Menyusuri dermaga, memotret beberapa frame dan perjalanan dilanjutkan mengelilingi kota. Kami singgah di Tempio Voltiano, museum di Kota Como yang didedikasikan untuk Alessandro Volta yang menciptakan baterei. Karena sudah sore, kami tidak mengunjungi museum, hanya melihat dari luar. Kami menyusuri jalan kembali ke mobil

Kami pulang kembali ke rumah Costanza di Castelmarte dan makan malam pizza ukuran jumbo di restoran tidak jauh dari rumah. Rasanya enak banget dan tentunya kenyang pol… Dan hari ini diakhiri dengan obrolan dan tidur yang nyenyak sampai pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *