“What’s in a name? That which we call a rose
By any other name would smell as sweet”

~ Romeo and Juliet by Shakespeare ~

Baru saja mendapat cerita baru tentang masalah lama yang selalu menjadi bahan berbincangan kami berdua setelah lulus sekolah dan membuat saya jadi ingin menulis cerita ini dan membuktikan bahwa nama seseorang itu penting untuk mengidentifkasikan seseorang

Alkisah, dulu ada seorang adik kelas yang namanya serupa tapi tak sama. Nama saya Rethia dan dan dia Retty. Ketika sempat beberapa tahun barengan sama angkatan dia ketika jaman-jaman kuliah kedokteran, hal itu tidak pernah menjadi masalah karena kelompok saya dan dia selalu berbeda, sehingga dosen tidak pernah bingung.

Ketika saya mulai sekolah anestesi, saya menggunakan nama Tia sebagai panggilan seperti layaknya panggilan saya sehari-hari di rumah. Tapi tetap saja sebagian orang mengenal saya sebagai Rethia. Ketika Retty memutuskan untuk masuk anestesi juga satu semester kemudian, saya meminta dia untuk menggunakan nama panggilan lain supaya tidak rancu nantinya ketika berhubungan dengan dosen, parestesi dan juga pasien. Akhirnya panggilan yang dia gunakan adalah Widy. Hal ini biasa dipakai oleh orang-orang yang bernama sama di Parestesi.

Rasanya selama sekolah anestesi saya dan Retty tidak pernah mengalami masalah dengan nama. Sampai akhirnya ketika kami lulus dan dia kembali menggunakan nama Retty lagi. Pertama kali kesalahan nama ini saya rasakan ketika seorang senior saya di anestesi bertanya, “bukannya kamu sekarang di Palembang?”. Mmmmmhhhh…sempat bingung tapi akhirnya saya cepat tanggap bahwa yang dimaksud si senior ini adalah Retty yang kebetulan ketika itu suaminya ditempatkan di Palembang. Ada juga yang berkata, “ooo…yang di Palembang itu ya!?”.

Setelah itu, mulai banyak cerita-cerita kesalahan nama baik dipihak saya maupun Retty. Walaupun sepertinya dari Retty lebih banyak. Seperti Salamah (seorang asisten Parestesi) bertemu dengan Retty dan kemudian bercerita ke dr. A (seperti dikutip dari cerita Retty):
Salamah: “Dok ada dr. Widi!”
Dr. A: “Widi??” 
Salamah: “iye….dr. Widi…dr. Rethia…”

Retty yang sekarang kerja di salah satu rumah sakit pemerintah di Jakarta kembali bercerita tentang salah nama ini. Kali ini ada salah satu dokter yang lagi ambil spesialis anestesi (residen) sedang jaga di rumah sakit tersebut. Residen ini memberikan informed consent mewakili Retty sebagai dokter jaga hari itu. Ketika selesai dan menuliskan nama dibagian pemberi informed consent, dia menuliskan nama saya. Untung segera disadari oleh Retty dan diperbaiki. Setelah dicari tahu kenapa sampai salah tulis, dia pikir saya dan Retty adalah orang yang sama.

Saya Rethia, bukan Retty. Kami dua orang yang berbeda yang kebetulan punya nama mirip dan spesialisasi di bidang yang sama. Tolong hati-hati sebelum terjadi masalah kedepannya. Btw, saya gak suka dipanggil Rethi, kayaknya nanggung gitu deh. Panggil saya Rethia atau Tia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *