Hari ini saya, Wira, uni Shanty bersama 7 orang anak Jurasik plus Riguel dan Michelle mengunjungi Rainbow Warrior, kapal Greenpeace yang sedang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok. Ini adalah kunjungan kapal ke-3 buat saya. Sebelumnya saya pernah mengunjungi kapal East Indiaman Götheborg dan kapal Greenpeace Esperanza. Info tentang kapal ini akan mampir di Jakarta sudah saya dengar dari beberapa media maupun teman.

Kami berangkat setelah makan siang dan shalat dzuhur menggunakan 2 buah mobil. Perjalanan dari rumah menuju Pelabuhan Tanjung Priok memakan waktu sekitar 1,5 jam walaupun sebenarnya hanya 23 km dan menurut google map hanya butuh waktu 30 menit. Lalu lintas yang ramai di jalan tol dan kemacetan yang agak bikin frustasi setelah keluar tol dalam kota tetap tidak mematahkan semangat kami. Kami sampai di pelabuhan penumpang Nusantara 1 sekitar jam 2 siang.

Sampai di pelabuhan penumpang kami disambut oleh teman-teman relawan dari Greenpeace. Masing-masing anak mendapat 1 buah pin. Setelah menitip sebagian tas yang dibawa, kami masuk ke ruang tunggu yang sudah ditata sedemikian rupa dengan foto-foto, sepeda dan motor. Pak Agus, salah satu relawan Greenpeace, sudah menanti kami untuk memandu dan bercerita tentang kapal yang akan kami lihat dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman Greenpeace. 

Setelah sekitar 30 menit mendengarkan cerita Pak Agus, sampailah kami diantrian pengunjung yang akan naik ke kapal. Kami mengantri sekitar setengah jam lagi sebelum akhirnya bisa naik ke kapal.

Di atas kapal, pemandu kami adalah kak Uci. Kunjungan kali ini diawali dengan penjelasan tentang kapal Rainbow Warrior oleh salah satu kru yang berasal dari Italia di anjungan (bow). Mmmmhhhh…nama mas bule ini tidak terdengar dengan jelas. Penjelasan ini juga diterjemahkan oleh 2 orang relawan. Anak-anak yang kami bawa sangat antusias untuk bertanya. Begitu juga beberapa pengunjung lainnya. Ketika naik ke kapal kami disambut oleh hujan yang makin lama makin lebat, sehingga agak lama kami berada disini. Di anjungan ada sebuah patung lumba-lumba bernama Dave yang konon merupakan sebuah time capsule.

Ketika hujan sudah mulai mereda, kami pindah ke bridge. Ini adalah ruang navigasi tempat kapten kapal biasanya berada. Tapi kali ini kapten kapalnya agak malu-malu, jadi tidak terlihat sama sekali. Sementara ketika berkunjung ke kapal Esperanza, sang kapten dengan ramahnya menghampiri dan mengobrol dengan pengunjung. Penjelasan tentang alat-alat navigasi diberikan oleh mas Ade Kocil (foto kita pas diberikan penjelasan oleh mas Ade bisa dilihat di sini). Dia ikut di kapal Rainbow Warrior sejak dari Papua. Kaysan, Bagas dan Riguel heboh menanyakan hampir semua alat, tombol dan apapun yang bisa ditanyakan 🙂 Semangat sekali sepertinya. Sementara yang tua-tua hanya bisa berkata “oooo…itu gunanya” 🙂

Keluar dari bridge, hujan sudah tinggal rintik-rintik saja. Kami lanjut pindah ke bagian belakang kapal yang ada helideck-nya. Disini ada relawan lain yang menjelaskan tentang ruangan-ruangan yang ada di dalam kapal. Penjelasan dilengkapi dengan foto-foto yang kurang lebih berukuran A3. Melihat foto-foto tersebut sepertinya nyaman berlayar dengan kapal ini. Mmmmmhhhh…diluar mabok-mabok selama pelayaran ya 🙂 

Dari helideck, kami beranjak ke ruang konferensi lantai dasar kapal. Di sini kami menonton film aksi-aksi Greenpeace dan buntut-buntutnya diajak menjadi supporter Greenpeace. Kami baru beranjak dari pelabuhan Tanjung Priok sekitar jam 4 sore dan perjalanan pulang memakan waktu lebih dari 3 jam. Macet berat bo’. Belum lagi ditambah dengan anak-anak yang mabok setelah dibuai di atas kapal.

Kapal yang dibuat tahun 2011 dan terdaftar di Amsterdam ini adalah kapal Rainbow Warrior yang ketiga. Kapal pertama dibom oleh agen rahasia Perancis pada tahun 1985 ketika bersandar di New Zealand. Sedangkan kapal yang kedua sekarang dihibahkan ke salah satu NGO di Banglades dan dijadikan rumah sakit terapung setelah dipakai oleh Greenpeace selama lebih dari 20 tahun. Kapal ketiga ini di desain khusus untuk kapal Greenpeace dan merupakan kapal yang ramah lingkungan. Walaupun dilengkapi dengan mesin bermotor, kapal ini adalah kapal layar dengan kemampuan mencapai 15 knot/jam (1 knot=1,852 km/jam). Jika cuaca tidak memungkinkan untuk menggunakan layar, kapal ini dapat menggunakan mesin elektrik dengan sumber listrik dari sinar matahari. Untuk lengkapnya tentang kapal ini bisa dibaca di sini.

Dibandingkan dengan 2 kapal lainnya, sepertinya kapal ini lebih ramai pengunjungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *