Kalau baca judulnya mungkin yang terpikirkan adalah “aaakkkhhhh….biasa aja”. Tapi buat kami ini luar biasa, karena selama ini kalau ketemuan sama teman biasanya naik mobil atau taksi. Tapi karena kali ini janjiannya jam setengah 8 pagi dan hari minggu, maka saya dan Wira putuskan untuk naik sepeda saja. Lumayankan bisa sambil olahraga.

Setelah siap-siap dan sedikit kesiangan dari jadwal yang direncanakan, akhirnya kami berangkat dari rumah sekitar jam setengah 7. Rute yang kami ambil adalah rute biasa kearah kalau menuju bunderan HI. Tapi begitu mencapai Mesjid Sunda Kelapa, kami belok kiri ke arah Guntur/Halimun. Lalu masuk jalan Sudirman dari arah gedung Landmark. Menyusuri jalan Sudirman dan berputar balik sebelum jembatan Semanggi lalu mengarah ke Bendunga Hilir atau lebih ngetop dengan Benhil. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu 1 jam 11 menit untuk mencapai tempat ini. Jam setengah 8 kami sudah sampai di Pasar Benhil.

Kali ini kami akan ketemuan di Bofet Mini, sebuah tempat makan yang menjual makanan khas Minang di dalam pasar Benhil. Berhubung kami belum pernah kesini, jadi agak bertanya-tanya dimana tempatnya. Dan ketika Wira menghubungi Beben, salah satu temannya, dia pun belum sampai. Jadilah kami berdiri-diri di depan pasar. Kesempatan kali ini saya gunakan untuk foto-foto sekitar Benhil untuk menambah koleksi hipstamatic untuk Jakarta. Tak lupa bernarsis ria dengan sepeda untuk koleksi album foto Cycling yang belakangan ini agak lupa diperbanyak ๐Ÿ™‚

Akhirnya Beben dan Yanni datang beserta si kecil Aleena. Mereka sampai sekitar jam 8 pagi. Tau begitu, kami sebenarnya ada waktu untuk berputar sampai ke Senayan :). Kami langsung menuju ke Bofet Mini. Karena disini tidak ada tempat parkir sepeda, jadi sepeda kami bawa masuk pasar dan dikunci disamping tempat kami makan. Tak lama kemudian datang Mia, Ina dan Deded beserta si jagoan Almer. Seperti biasa kalo bertemu teman, ada saja cerita-cerita yang terlontar. Tak terasa sudah berbagai macam makanan mampir ke meja kami. Setelah hampir 2 jam duduk di Bofet Mini, kami putuskan untuk pindah ke tempat yang ada AC-nya. Soalnya kasian si bayi-bayi ini mulai rewel karena kepanasan.
Akhirnya diputuskan kami akan ketemuan lagi di Kota Kasablanka (KoKas, sebuah mall di Jakarta). Jadi saya dan Wira lanjut naik sepeda deh ke KoKas. Karena masih jamnya car free day, kami langsung mengarah ke jalan Sudirman, lalu berputar di depan gedung Chase dan kemudian masuk jalan Prof. Dr. Satrio. Sampai di terowongan Casablanca, kami putuskan untuk lewat terowongan saja. Ternyata setelah terowongan, tanjakannya lumayan juga. Lumayan pegel genjotnya. Udah lama gak genjot naik turun flyover/underpass ๐Ÿ™‚ Sesampai di KoKas, kami parkir sepeda di tempat yang sudah disediakan oleh pihak pengelola yaitu di depan Starbucks dan disamping parkir motor-motor Harley Davidson. Tak lupa sepedanya dikunci.ย 

Weits…kapan lagi pergi ke mall belum mandi begini ๐Ÿ™‚ Setelah telpon-telponan dengan Beben, kami ketemuan di depan KFC dan pergi mencari tempat duduk-duduk yang nyaman. Kami putuskan untuk duduk-duduk di Kopi Luwak. Begitu kami sampai, mbak-mbaknya masih bebenah tempatnya. Ternyata saingan sama mbak-mbak di Kopi Luwak datangnya :). Kami melanjutkan obrolan sambil menunggu Aan untuk bergabung. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sudah saatnya jam makan siang. Setelah putar-putar sebentar di Ace Hardware & Informa sebentar, kami putuskan untuk makan siang di Sate Khas Senayan. Pertemuan ini diakhiri sekitar jam 3 siang karena Yanni masih ada acara lagi.ย 

Well…inilah saatnya tantangan terbesar untuk saya. Gowes pulang dalam kondisi perut kenyang dan agak mengantuk. Sepertinya saraf-saraf parasimpatis mulai bekerja. Tapi kami tetap harus pulang. Berangkat dari KoKas sekitar jam setengah 4, kami mulai menggowes dengan segala tantangannya. Pertama flyover di jalan Saharjo, lalu flyover di atas stasiun Tebet, dilanjutkan dengan flyover Kampung Melayu. Setelah 2 tanjakan sebelumnya, tanjakan flyover Kampung Melayu sempat membuat saya terseok-seok. Ingin turun dari sepeda dan dituntun saja sepedanya. Akhirnya sampai juga di puncak tanjakan dengan pandangan agak gelap ๐Ÿ™‚ Terpaksa istirahat dulu sebentar. Selain napas terengah-engah, lutut juga rasanya maknyus. Harus lebih sering nih naik turun flyover/underpass. Setelah sudah bisa mulai mengatur napas dan lutut sudah tidak terlalu nyeri, perjalanan dilanjutkan. Masih ada satu lagi underpass yang harus dilalui yaitu underpass di kolong bypass. Alhamdulillah underpass ini bisa dilalui dengan cukup baik. Sempat minggir dulu di depan penjual karpet di pasar Gembrong untuk minum. Soalnya waktu di flyover mau minum agak ribet. Underpass bypass bukan tantangan terakhir, masih ada beberapa tanjakan dan turunan di sepanjang jalan Basuki Rahmat dan Kolonel Sugiono. Tapi paling tidak kali ini kami berjalan di jalur sepeda samping BKT. Dan jalannya juga sudah sepi, sehingga bisa agak santai bersepedanya.ย Sekitar setengah 5 kami sudah sampai di rumah. Total gowesan kami sejauh 35 km. Lumayan juga untuk olahraga kali ini :).

Lutut rasanya gemetar ketika harus naik ke lantai 2. Tapi setelah mendapat pijatan penuh cinta dari Wira untuk lutut saya yang sakit, pagi ini kaki saya baik-baik saja ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *