Setelah minggu lalu pergi ke Marunda, Ni Shanty penasaran dengan rumah si Pitung. Jadilah dia browsing sana sini. Akhirnya dapet informasi juga tentang keberadaan rumah si Pitung. Tapi ternyata ni Shanty gak jadi ikut naik sepeda hari ini karena harus ke Jogja untuk acara lain di sana. Yang ikutan main sepeda hari ini ada saya, Wira, Yani, Nul, Riguel, Michelle, Bagas, Dika, Farhan dan Pak De Zul. Yuppp…10 orang, 5 dewasa, 1 ABG dan 4 anak-anak. Kami berangkat jam 6 pagi. Maksud hati sih berangkat jam 5.30 🙂 Tapi karena pasukan yang dibawa banyak, jadi agak ribet deh.

Kali ini karena perencanaannya lebih matang, anak-anak yang ikut naik sepeda sendiri kecuali Michelle. Yang terpikir mudah-mudahan mereka kuat sampe rumah si Pitung dan pulang 🙂 Rute kali ini hampir sama dengan rute minggu lalu. Tapi kami tidak potong jalan menyeberang rel kereta api melainkan menyeberang di tempat seharusnya lalu masuk jalan offroad disamping rel kereta sebelum masuk jalur pinggir BKT. Perjalanan mencapai pantai sedikit lebih lama dibandingkan minggu lalu karena lebih banyak istirahatnya. Kami juga tidak paksakan untuk jalan terus mengingat kali ini bersepeda sama anak-anak.

Jalur yang kami lewati ini sebenarnya cukup enak untuk membawa anak-anak bersepeda bersama karena jalan yang tidak terlalu ramai walaupun ada motor dan mobil yang melintas di jalan ini. Tapi sebaiknya si anak dilatih terlebih dahulu mengenai tata tertib bersepeda di jalan raya. Riguel menjadi salah satu yang diawasi ketat karena dia belum pernah naik sepeda di jalan raya. Dipertengahan jalan menuju pantai Bagas sempat menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Menurut Wira yang bersepeda bareng Bagas, ditengah jalan dia sudah berkata, “Om Wira, aku udah gak kuat nih! Berenti dulu dong”. Tapi dengan semangat kami mengajak istirahat dan mengatakan sedikit lagi sampai, karena pintu air dan jembatan terakhir sudah kelihatan. Lain lagi komentar Michelle, “Nanti aja abang Bagas, belum capek kok!”. Dan Bagas menyahut, “iya lah, kamu kan dibonceng!”. 🙂

Sesampai di pantai Marunda, kami istirahat sebentar, sambil makan & minum bekal yang dibawa. Karena pengalaman minggu lalu yang merasakan kurangnya minum yang dibawa, kali ini saya membawa 5 botol air minum kapasitas sekitar 500 ml plus sebotol mizone. Kami membawa bekal roti isi mesis dan coklat karena ketika berangkat belum sempat sarapan.

Setelah puas duduk-duduk melepas lelah sambil makan dan minum serta foto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke rumah si Pitung. OK…hampir kami batal kesana karena kata Yani, kalau sampai daerah tertentu akan banyak trailer. Sempet ngeri juga sih, tapi karena waktu browsing dibilang gak jauh dari pantai. Jadi kami putuskan untuk jalan sampai titik tertentu, kalau tidak ketemu juga rumah si Pitung, kami akan kembali pulang. Tapi ternyata kami hanya perlu berjalan kurang lebih setengah kilometer untuk mencapai belokan yang mengarah ke rumah si Pitung. Setengah kilometer yang cukup mengerikan karena jalan yang kecil dan banyak kendaraan lain termasuk truk, kami tidak bisa bersepeda berdampingan dengan anak-anak. Sebelum sampai belokan, ada petunjuk arah ke rumah si Pitung. Dari belokan, kami menempuh sekitar 1-1,5 km untuk sampai di rumah si Pitung. Menjelang rumah si Pitung, kita bisa lihat pohon-pohon bakau.

Ketika sampai disana ternyata akan ada upacara sumpah pemuda yang akan dilakukan oleh komunitas sepeda ontel bekasi. Sudah ada beberapa sepeda ontel yang sudah sampai dan menunggu teman-teman lainnya. Kami pun sempat berfoto bersama pak Sumeri dengan sepedanya yang penuh hiasan ala jaman perang. Di sepeda ontel pak Sumeri bisa dilihat beberapa buah peluru dipasang sebagai hiasan. Ada juga foto pak Sumeri dan Foke ditempel disebuah kotak yang dipasang diboncengan sepeda. Selain sepedanya yang bergaya ala jaman peperangan dulu, pak Sumeri juga berpakaian hijau-hijau ala tentara.

Asik foto-foto sama pak Sumeri, sampai tertunda kami masuk ke rumah si Pitung. Rumah panggung kayu berwarna coklat tua ini sebenarnya adalah rumah H. Safiudin. Sebelum masuk rumah, ada sebuah meja kecil dan buku tamu yang harus diisi untuk data pengunjung. Biaya masuknya seikhlasnya. Kami memberi Rp. 40.000. Di beranda rumah ada sebuah meja kayu dengan 4 buah kursi dan patung si Pitung (asumsi saya). Setelah melewati pintu depan kita akan masuk ke ruang tamu. Disini ada sebuah lukisan laki-laki dan perempuan serta perabot. Lalu kita akan menyusuri lorong yang terdapat cerita tentang kehidupan si Pitung. Cerita ini diambil dari tulisan Ridwan Saidi di Majalah Tani tahun 2009 yang berjudul ” Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?”. Lumayanlah jadi ada sedikit bayangan tentang cerita si Pitung yang sempat dibuat filmnya pada tahun 1931 dan 1970. Rumah ini memiliki sebuah kamar dan ruangan luas dibagian belakang yang berfungsi sebagai ruang makan dan dapur serta teras belakang. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Pitung di rumah ini seperti foto dll. 

Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto di rumah si Pitung, kami pun berencana kembali ke rumah. Bersamaan dengan munculnya rombongan komunitas sepeda ontel Bekasi. Ternyata mereka juga sibuk berkostum. Ada yang bergaya londo yang namanya Iwan Londo, ada juga pak Jaya (kalo gak salah inget namanya) dengan kostum hitam-hitam ala jawara, ada juga anak yang agak terkebelakang mentalnya menggunakan seragam SD (yang ini gak tau namanya, karena dia malu-malu pas ditanya trus pergi). Ada juga pak Haji Lukman (atau Ali Lukman ya!?) yang sudah sepuh tapi masih rajin bersepeda dengan sepeda ontel yang bermotif batik. Bahkan menurut cerita beliau, sehari sebelumnya beliau habis naik sepeda ke daerah Pondok Indah berdua dengan temannya. Ah…jadi malu, kayuhan saya belum seberapa dibanding eyang ini.

Perjalanan pulang, agak berat buat Riguel karena sepertinya dia sudah mulai letih dan hilang konsentrasi, karena ada suatu saat dia jalan ditengah jalan walaupun sudah diklakson dengan emosi oleh mobil dari arah berlawanan dan saya harus berteriak untuk menyuruhnya minggir. Tapi mobil itu juga aneh, udah tahu ada anak-anak naik sepeda masih juga ngebut. Keluhan peserta yang lain yang sama adalah pantatnya panas dan sakit. Alhamdulillah pantat sakit hanya terjadi sekali selama saya bersepeda ini. Sekarang pantatnya sudah bisa beradaptasi. Komentar Yani, “Kalau jarak segini sih masih OK sama kaki, gak terlalu pegel. Tapi pantat ini yang gak tahan. Udah panas dan kayaknya perlu dikompres sampe rumah nanti.” Well…tapi seru perjalanannya. Total perjalanan kami hari ini pulang pergi mencapai 43 km. Hebat anak-anak yang ikut ini bisa menempuh jarak segitu. Empat jempol buat mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *