Picture

Dapur apartemen di Berlin

Bulan Ramadhan kali ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kali ini saya lebih banyak di rumah. Jika tahun-tahun sebelumnya bulan Ramadhan itu seperti bulan reunian karena banyaknya acara buka puasa bersama yang diselenggarakan, tahun ini saya menghabiskan waktu di dapur. Waktu ada bibik Karmi, saya hanya bangun bila makanan sudah siap tersaji diatas meja. Bibik Karmi yang sibuk menyiapkan makanan lezat yang terhidang di meja. Setelah bibik Karmi pulang kampung, saya masih mengandalkan mbak-mbak asisten rumah tangga yang lain atau mama & ni Shanty. Ya…biasanya bukan saya yang berkutat di dapur. Paling banter saya hanya bantu-bantu sedikit. Atau jaman masih sekolah dulu, kalau pas waktu jaga ya sahur atau bukanya di rumah sakit. Tahun lalu pun ketika saya dan Wira di Khon Kaen, kami selalu membeli lauk buat buka puasa dan sahur karena kebetulan di kos-an kami tidak boleh masak kecuali menggunakan alat masak yg memakai listrik seperti rice cooker dan pemanas air. Tahun lalu, kami dapat pinjaman rice cooker, jadi nasi bisa masak sendiri.
Tahun ini, tidak banyak acara buka puasa diluar rumah yang saya hadiri. Hanya sekitar 3-4 saja. Setiap saya pergi berbuka diluar rumah selalu terpikir yang dirumah makan apa dan nanti sahur makan apa. Ya…sejak seminggu sebelum puasa, saya mulai rutin masak di rumah. Buka puasa dan sahur jadi ajang uji coba resep-resep yang saya miliki. Paling senang jika makanan sesuai dengan selera orang-orang di rumah yang jumlahnya tidak sedikit. Biasanya selama tinggal di negara orang, saya hanya memasak untuk 2 orang. Kali ini saya harus menyiapkan untuk 8 orang. Sebuah tantangan sendiri untuk membuat semua orang suka dengan makanan yang saya buat. 

Tapi kalau akhir pekan biasanya saya libur masak untuk berbuka, karena kadang saya berbuka bersama keluarga di Rawamangun. Selain itu, biasanya yang lain juga berbuka diluar rumah. Jika ada yang membawa makanan untuk sahur, berarti saya tidak perlu masak. Tapi jika tidak ada maka masakan andalan adalah telur dan rendang. Bukan…saya bukan membuat rendang untuk sahur, tapi saya hanya menghangatkan rendang yang sudah standby di kulkas. 

Kalau menyiapkan makanan untuk sahur, uni Shanty biasanya menjadi asisten saya. Tapi kalau masak untuk berbuka, semua saya tangani sendiri, soalnya waktunya panjang. Yang repot kalau mendadak rasa malasnya muncul, bisa-bisa makanan baru siap jam 7 malam 🙂 

Well…tapi saya merasa bulan Ramadhan ini cukup sukses di dapur. Kalau mau nyicip masakan saya, silakan mampir ke rumah 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *