Bertepatan dengan hari Paskah, saya, Wira dan beberapa orang teman pergi mengunjungi Lutry. Daerah ini dekat dengan Lausanne, Swiss. Sehari sebelumnya, saya dan Wira sudah melintas di daerah ini ketika kami pergi ke Zürich.

Kami janjian bertemu dengan teman-teman di stasiun kereta Cornavin. Rencananya kami akan naik kereta yang jam 11.10. Setelah membeli tiket, kami menuju peron sesuai dengan tiket. Ternyata sudah ada sekitar 10 orang lainnya yang menunggu di peron. Kalau dijumlah ada sekitar 15 orang yang berangkat bareng. Kami tidak langsung menuju ke Lutry melainkan turun di Lausanne. Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam. Di Lausanne kami janjian dengan beberapa orang lainnya. Sebenarnya kami janjiannya di stasiun tetapi entah bagaimana ceritanya akhirnya kami menuju kota tua Lausanne untuk menjemput beberapa orang lainnya. Well…lumayanlah jadi jalan-jalan dikit di Lausanne.

Dari kota tua Lausanne, kami berjalan menuju pinggir danau Leman. Tiba di tepi danau Leman sekitar pukul 1 siang dan kami menyantap perbekalan kami terlebih dahulu. Setelah makan siang, kami lanjutkan perjalanan ke Lutry. Rasanya lama sekali kami berjalan menyusuri pinggir danau ini. Untungnya jalannya cenderung rata. Cuaca hari itu kurang bagus karena awan mendung menggayuti langit biru, tapi menjelang sore, awan mulai bergeser dan langit biru mulai tampak. Udara hari ini cukup dingin dan saya sudah menyiapkan diri dengan menggunakan jaket tebal andalan saya.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, kelompok kami sempat terpisah. Tapi akhirnya bergabung lagi disalah satu kafe yang ada di sekitar Lutry. Kami menghangatkan badan dulu sebelum jalan lagi. Kami sungguh beruntung ada kafe yang buka karena hari itu hari minggu dan Paskah. Setelah badan ini cukup hangat, kami berjalan kaki lagi. Kali ini kami sudah hampir sampai di perkebunan anggur yang kami tuju. Setelah berjalan sekitar setengah jam lagi, kami sampai di perkebunan anggur. 

Sehari sebelum berangkat ke Lutry, saya sudah sempat browsing dan mengunduh aplikasi untuk iPhone tentang Lutry. Aplikasi gratis ini sebenarnya tentang Lausanne, tetapi Lutry termasuk disalah satu tujuan yang dapat dikunjungi. Perkebunan anggur dan beberapa bangunan di Lutry ini termasuk kedalam UNESCO world heritage. Jadi saya sudah ancang-ancang untuk lihat tempat ini. Ternyata penunjuk jalan di rombongan memilih jalan lain untuk menyusuri perkebunan ini. Tujuan kami adalah stasiun kereta Lutry. 

Lutry seperti bagian Swiss lainnya yang terdiri dari perbukitan dan gunung membuat perjalanan kami hari itu naik dan turun. Lebih banyak naiknya sih, karena stasiun kereta berada di atas sebuah bukit. Mmmmhhhh…tapi pemandangannya sungguh indah. Karena saya tidak bisa jalan mendaki dengan cepat, saya selalu berhenti bila merasa lelah atau ada obyek foto yang menarik. 

Akhirnya kami sampai juga di stasiun Lutry. Kami sampai disitu sekitar jam 5 sore. Tetapi karena saya masih penasaran dengan tempat-tempat yang ada di guide yang dikeluarkan oleh pemerintah Swiss, saya mengajak Wira untuk berjalan menyusuri rute yang ada di guide tersebut. Kalau ditanya apakah saya masih sanggup jalan, saya akan jawab sanggup tapi jalannya pelan-pelan, soalnya kakinya sudah pegel. Satu hal yang membuat saya tetap semangat adalah kesempatan yang mungkin cuma ada kali ini saja karena Wira dan saya sudah akan kembali ke Indonesia dalam beberapa minggu lagi. Akhirnya Wira dan saya berjalan kembali menyusuri rute seperti guide.

Mmmmhhhh…ternyata rute di guide itu tidak semuanya mudah diikuti. Dan beberapa point kurang tepat seperti keberadaan Welcoming Hut. Selain itu, karena saat itu baru mulai masuk musim semi, pohon anggurnya masih botak sehingga kami tidak bisa membedakan yang mana anggur merah dan anggur hijau. Perjalanan ini cukup menantang walaupun cenderung rata dan menurun. 

Sepanjang perjalanan itu titik-titik yang bisa dilihat adalah: dua metode menanam anggur, dua Welcoming Hut, dua jenis anggur yang ada di Lutry, Winemaker’s houseChâteau de Montagny sur Villettemonorail to conquer the slope, tembok batu kuno, rumah-rumah di desa penghasil wine, timbangan jaman Roman yang digunakan untuk menimbang hasil panen anggur, dan Bertholod Tower. Di Welcoming Hut, kita bisa membeli wine produksi perkebunan ini. Penjualannya dengan azas kepercayaan. Mereka meletakkan botol wine dan gelas di dalam pondok tersebut dan menyediakan kotak uang. Jika kita ingin membeli, ambil wine serta gelasnya dan letakkan uangnya di dalam kotak tersebut.

Setelah melihat seluruh titik yang ada didalam guide, kami langsung menuju ke stasiun kereta. Dari situ kami kembali menuju stasiun Lausanne dan kemudian kembali ke Jenewa. Wah… kalau ditotal, jalan kaki saya hari ini sekitar 8 jam. Ketika sampai di stasiun Lausanne, kaki kiri saya sempat kram karena terlalu lelah berjalan. Tapi saya merasa puas. Satu tempat lagi kami kunjungi dan masih banyak tempat lain yang ingin kami datangi. Sampai rumah kami langsung istirahat.

Catatan: beberapa foto di tulisan ini diambil oleh Wira, terutama ketika saya sebagai obyeknya :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *