Kali ini adalah kali kedua saya mengunjungi tempat ini. Saya pergi bersama rombongan lebih besar bersama Wira, orangtua Wira, Uni Jess, Riguel & Michelle. Perjalanan saya dan Wira pertama kali ke situs ini bisa dibaca di sini.

Pada kunjungan kedua ini, ada Pak Kaisin yang menemani kami dan bercerita tentang sejarah candi ini. Pak Kaisin adalah pemandu dan penjaga situs Candi Jiwa di Batujaya. Cerita pak Kaisin membuat kunjungan jadi lebih menarik. Selain ke candi, kami juga melihat-lihat beberapa barang temuan disekitar candi ini dan disimpan di museum setempat.

Pertama-tama kami mampir di RS Proklamasi Rengas Dengklok untuk menjemput mama dan papa Wira yang bekerja disana. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan 1 mobil. Perjalanan dari RS Proklamasi memakan waktu sekitar 1 jam.. Petunjuk jalan ketempat ini juga cukup jelas.

Karena sudah pernah kesini sebelumnya, kami tahu yang pertama kali dituju adalah tempat mengisi  buku tamu dan menyumbang seikhlasnya untuk pembiayaan candi ini. Kali ini yang bayar papanya Wira. Dan disini kami ditanya mau pake guide atau tidak. Diputuskan kali ini kami akan pakai guide untuk menerangkan situs ini. Nama guide kami adalah Pak Kaisin.

Sebelum melihat-lihat candi, kami diajak Pak Kaisin untuk mampir dulu ke ruang pamer & tempat penyimpanan barang-barang yang ditemukan disekitar candi seperti gerabah, bagian-bagian candi maupun kerangka manusia yang ditemukan di situs ini. Ruangan ini terletak diseberang ruang informasi.

Untuk mencapai situs candi ini, kita harus berjalan ditengah-tengah sawah. Jalan menuju candi sudah bagus dan dibeton. Candi-candi ini terletak lebih rendah daripada tanah sekitar. Terdapat 3 area yang sudah ditandai yaitu Candi Jiwa, Candi Blandongan dan Unur Lempeng. Candi Blandongan masih dalam tahap pemugaran yang berlangsung sejak tahun 2008. Pada kunjungan yang pertama, saya & Wira hanya mengintip dari lubang pintu karena candi masih dipagari oleh seng dan pintunya terkunci. Tapi pada kunjungan kedua, karena ditemani Pak Kaisin, kami bisa melihat lebih dekat candi Blandongan ini. Candi-candi ini tidak seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan yang dibangun menggunakan batu melainkan dibangun dari lempengan batu bata. Hal ini pula yang membuat pemugaran situs ini agak sulit. Berdasarkan analisis radiometri carbon 14 didapatkan lempengan batu bata pada Candi Blandongan berasal dari abad 2 dan yang paling muda dari abad 12. Beberapa bagian candi ada juga yang terbuat dari stuko yaitu campuran pasir, kapur dan atras/sisa-sisa kerang. Pak Kaisin juga menceritakan tentang bentuk-bentuk yang ada di candi ini dan maknanya. 

Jika mendengarkan cerita Pak Kaisin, rasanya menarik sekali untuk mengetahui sejarah masa lalu, walaupun saya sebenernya sempat muak dengan pelajaran sejarah ketika kelas 1 SMA. Mungkin ini salah satu cara belajar sejarah yang baik 🙂 

Setelah puas melihat-lihat, foto-foto dan bertanya pada Pak Kaisin, kami pun kembali kerumah.

Untuk info lebih lanjut tentang Candi Jiwa ini bisa dilihat disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *