Hari ini bangun kesiangan, padahal maksudnya mau hunting sunrise. Apalagi sunrise-nya pas banget di depan penginapan. Langsung shalat subuh dan ambil kamera lalu nongkrong di pantai untuk nunggu mataharinya muncul. Tapi sayangnya hari ini agak berawan, jadi gak bisa deh lihat matahari yang bagus muncul dari garis batas laut. Jadinya foto-foto disekeliling tempat saya duduk aja deh. Peserta yang lain juga belum pada bangun. 

Sambil terus memotret saya berjalan ke arah kiri cottage. Saya bahkan juga bertemu dengan bapak-bapak yang kemudian bercerita kalau daerah ini sempat akan dikembangkan, bahkan sudah sempat dibangun beberapa bangunan setengah jadi, tapi entah kenapa dibatalkan dan sekarang bangunan-bangunan itu terbengkalai begitu saja. Menurut bapak itu, tempat ini mulai ramai semenjak film laskar pelangi ditayangkan. 

Perjalanan saya lanjutkan hingga mencapai bagian berbatu-batu dari pantai ini. Pantai di depan cottage kami menginap bebas dari bebatuan. Batu-batu berukuran besar ini bukan batu karang seperti layaknya yang ada di pantai/laut melainkan batu granit. Ukurannya juga bervariasi dari yang kecil sampai jumbo. Menarik buat jadi obyek foto, apalagi kalau ada obyek lainnya. Wah…ternyata pemikiran saya bersambut dengan datangnya mama Ita dan papa Djoni ke tempat saya berada. Kebetulan mereka juga minta difoto, sehingga jadilah beberapa frame foto mereka berdua di tempat ini.

Langit sudah mulai terang dan saya pun kembali ke penginapan. Setelah semua bangun, kami kembali ke pantai berbatu. Sementara saya dan Ketty memotret, yang lain sibuk berenang dan mengetes air. Tak lama kami di sini karena harus bersiap-siap untuk hopping island. Kami kembali ke penginapan dan bersiap-siap sementara sarapan pagi disiapkan oleh pihak penginapan.

Sekitar jam 9 pagi, setelah sarapan, kami menuju kapal yang sudah disewa oleh Pak Ito. Kami menggunakan dua buah kapal. Pengemudi kapal yang saya naiki adalah salah satu figuran di film laskar pelangi, jika tidak salah ingat namanya Pak Taufik. Air laut yang jernih menjadi pemandangan yang sangat indah sepanjang perjalanan kami hari ini.

Pertama-tama kami mengarah ke sebuah kumpulan batu yang membentuk kepala burung. Ini bukan Pulau Burung. Tempat ini terlihat cukup jelas dari tempat kami menginap. Dari sana perjalanan lanjut ke Pulau Batu Berlayar. Di sini terdapat beberapa buah batu besar yang bentuknya mirip dengan layar kapal. Kami turun di pulau ini dan berfoto-foto sejenak. Bahkan Millie sempat-sempatnya ingin berenang dulu di pulau ini 🙂 Sayang mama saya tidak bawa baju renang dan karena sulit naik turun kapal beliau tinggal di kapal saja.

Dari Pulau Batu Berlayar, kami melanjutkan ke Pulau Lengkuas. Di pulau ini terdapat mercu suar yang sampai saat ini masih dipakai. Tapi karena pulau ini padat pengunjung, kami putuskan untuk tidak turun di pulau ini tetapi kami akan snorkeling di sekitarnya. Jadilah kami langsung gear up dan nyemplung ke laut. Menikmati keindahan bawah laut dengan air laut yang jernih dan karang & ikan yang berwarna-warni merupakan saat yang tepat untuk bersyukur atas nikmat Allah. Kami juga mencoba kantong kamera tahan air yang baru dan foto-foto pun berlanjut.

Selain itu, kesempatan kali ini saya gunakan untuk mengatasi rasa takut pada laut dalam yang sempet terpicu ketika saya membantu Millie untuk kembali ke kapal. Karena panik, dia justru menekan saya ke dalam air. Rasa itu muncul lagi. Untung ni Jess cepat membantu. Setelah cukup tenang, saya kembali menikmati keindahan bawah laut di sekitar kapal.

Cukup lama kami berenang-renang di sekitar Pulau Lengkuas sebelum akhirnya kami beranjak ke Pulau Burung. Kami akan berenang dan makan siang di pulau ini. Kami mencari spot yang paling enak dan menggelar terpal plastik yang sudah dibawa. Berbeda dengan di Pulau Lengkuas tadi, di sini air laut tidak terlalu dalam dan dikelilingi bebatuan sehingga ombak tidak besar serta airnya sangat jernih. Sangat cocok untuk berenang santai dan bermain air. Sambil menunggu makanan siap, kami sempat memanjat bebatuan dan membuat foto keluarga dengan berbagai gaya :). 

Makan siang kami dimasak oleh pak Taufik dan kru. Makanannya berupa ikan bakar dan tumis kangkung. Rasanya nikmat sekali makan setelah berenang-renang sepagian. Apalagi dengan makanan yang enak. Bahan makanan sudah dibawa dari pagi, karena kami memang minta makanan yang dimasak oleh tukang kapal (rekomendasi dari Yani). Selesai makan, kami shalat dan kembali berenang dan foto-foto. 

Setelah puas berenang dan foto-foto, kami pindah lokasi ke Pulau Babi Kecil. Ini tujuan terakhir karena kami akan menunggu sunset di pulau ini. Tidak ada habisnya kami berfoto-foto di pulau ini. Ada gunanya juga kami beli kantong kamera tahan air. Karena masih agak lama sunsetnya, diputuskan untuk snorkelling sekali lagi di dekat pulau ini. Karena arus sudah mulai menguat, pasir pun mulai menghalangi pandangan saat snorkelling, tapi kami tetap bisa menikmati indahnya kehidupan bawah laut. Sekitar jam lima sore, kami kembali ke Pulau Babi Kecil dan bersiap-siap untuk menangkap momen sunset. Sayangnya karena hari yang tidak terlalu cerah sehingga sunset-nya tidak maksimal hasilnya. Tapi lumayanlah.

Menjelang maghrib, kami kembali ke penginapan. Sesampai penginapan baru terasa bahwa kami cukup lelah. Kami memutuskan untuk makan malam di penginapan saja dan langsung istirahat karena besok masih ada kegiatan dan akan kembali ke Jakarta.

Nikmati juga foto-foto yang sempat diabadikan dalam perjalanan kali ini dan ikuti cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *