Sekitar sebulan sebelum kedatangan uni Jess ke Indonesia, Wira dan keluarga sibuk berdiskusi mau mengajak ni Jess jalan-jalan kemana. Setelah berdiskusi diputuskan kami akan pergi ke Belitung. Sebuah pulau di Indonesia yang belum pernah kami kunjungi dan mulai ngetop setelah film ‘Laskar Pelangi’ yang berlokasi di sana.

Tiket pesawat dipesan via website. Setelah dibandingkan sana-sini, ternyata yang cukup murah menggunakan Sriwijaya Air. Untuk tiket pulang pergi kami menghabiskan sekitar Rp. 1,3 juta/orang karena saat ini sedang musim orang mudik lebaran. Kalau tidak di peak season, biasanya bisa dapat harga sekitar Rp. 800 ribu. Saya dan Wira sibuk memesan tiket dari Thailand. Saat membeli tiket, kami masih berada di Khon Kaen dalam rangka menyelesaikan tugas akhir sekolah Wira. Kami memesan 11 tiket. Yupp…kami pergi dengan rombongan besar :).

Hari ini kami berangkat ke Belitung naik pesawat jam 6 pagi. Janjian ketemu sama geng Belma di Bandara Soekarno Hatta. Urusan check-in berjalan lancar, pesawat pun cukup ontime. Sekitar jam 8 kami sudah sampai di Belitung. Untuk keliling di Belitung, kami menggunakan jasa Pak Ito (rekomendasi dari Yani). 

Perjalanan kami hari ini akan menjelajahi bagian daratan pulau Belitung. Tujuan pertama adalah Kuil Dewi Kwan Im di daerah Belitung Timur. Dari bandara, perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke tempat ini. Dari kejauhan, bangunan berwarna merah dengan arsitektur Cina di atas bukit menyambut kedatangan kami. Kami melihat-lihat dan tidak lupa memotret kuil yang terawat ini. Kami menghabiskan sekitar setengah jam di kuil ini dan tidak lupa membuat group picture pertama.

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Burung Mandi yang letaknya tidak jauh dari Kuil Dewi Kwan Im. Di sini saya pertama kali mencoba bungkus kamera waterproof yang dibeli dalam perjalanan pulang dari Thailand 2 hari yang lalu. Wuidih…agak repot juga ya. Apalagi belum biasa memakainya sehingga beberapa foto agak aneh hasilnya. Tapi demi menjaga kamera saya dari cipratan air laut yang korosif, ya…digunakan saja deh. Setelah beberapa saat dan beberapa frame foto, saya sudah menemukan selahnya menggunakan kantong ini. Tapi repotnya pas mau minta difotoin dan yang motret gak tau cara memakainya jadi harus foto beberapa kali deh :). Banyak yang bisa difoto di pantai ini, tapi hasil fotonya banyak kurang memuaskan buat saya.

Sekitar jam 11 siang, kami beranjak dari pantai untuk mencari makan siang. Pak Ito mengajak kami ke Hotel & Restoran Nusa Indah II di daerah Manggar. Makanan yang disajikan cukup enak (atau karena lapar ya??!! :p). Setelah kenyang, kami pindah tempat ke Warung Kopi & Seafood Sari Dini untuk menikmati kopi khas Manggar. Berhubung saya bukan peminum kopi, jadilah pesanan saya kembali ke teh 🙂 Tetapi menurut semua yang minum kopi, rasa kopinya enak, walaupun terlalu manis untuk selera beberapa orang. Selain kopi, pemandangan disekitar warung kopi ini juga menarik. Masuklah ke dalam warung kopi ini sampai berada ditepi danau. Angin yang berhembus dan pemandangan yang cantik membuat kami betah berlama-lama di sini. Tapi kami harus melanjutkan perjalanan supaya bisa melihat tempat lain sebelum hari gelap.

Perjalanan berikutnya adalah ke SD Laskar Pelangi di Gantong. Bangunan sekolah yang sudah tidak berada di lokasi aslinya ini memang menjadi salah satu obyek wisata di Belitung. Sekolah yang aslinya bernama SD Muhammadiyah Gantong sekarang berada di atas sebuah bukit pasir dan bangunannya nyaris roboh. Foto-foto dulu sampai puas di sini. Tidak hanya bergaya di depan sekolah, kami pun bergaya di depan danau yang ada di samping sekolah. Kalau bawa rombongan yang hobi difoto begini repot juga ya, karena kami tidak bisa berhenti sebentar untuk melihat-lihat :).

Setelah puas bergaya di Gantong, kami meluncur ke Tanjung Pandan. Di sini kami membeli stok bahan cemilan buat di tempat menginap sambil memotret timah besar yang ada di tengah jalan. Mmmmmhhhh….saya lupa sebutan batu timah besar itu apa. 

Tidak berlama-lama di Tanjung Pandan, kami berangkat menuju Tanjung Kelayang. Selama di Belitung, kami akan menginap di Kelayang Beach Cottage dan Resto. Biaya sewa tempat ini Rp. 300.000 untuk yang menggunakan AC dan Rp. 200.000 untuk yang menggunakan kipas angin. Tempat ini cukup nyaman. Setiap tempat tidur dilengkapi dengan kelambu. Sayangnya air di sini kurang bagus. Warnanya agak kecoklatan, tetapi jika disaring, air yang keluar cukup jernih. Jadi saran saya, kalau menginap disini, bawa kain/kaos kaki bekas untuk menyaring air. Letak penginapan ini tepat dipinggir pantai Tanjung Kelayang yang cantik pemandangannya. Kami sampai di penginapan tepat saat maghrib. Dalam perjalanan pemandangan matahari tenggelam tampak memukau.

Setelah bagi-bagi kamar, kami berangkat makan malam di Tanjung Tinggi. Berhubung sudah sampai Belitung, tentunya menu yang kami pilih untuk makan malam adalah seafood. Makanannya enak, tapi harganya saya kurang tahu karena yang bayar bukan saya 🙂

Setelah makan malam, kami beristirahat karena besok kami akan island hopping seharian.

To be continued…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *