Picture

Beberapa hari yang lalu Wira pulang dari kampus sambil membawa makanan untuk berbuka. Wira berkata, “Yang, aku beli buah tapi gak tau namanya nih. Kita coba aja nanti rasanya.” Buah yang dibawa bulat, berwarna kecoklatan dan tampak seperti dibelah-belah tapi masih menempel.. Kata Wira buah itu dikupas lalu dicincang. Ukurannya sebesar jambu biji.

Setelah waktu berbuka, rupanya Wira masih penasaran dengan buah tersebut dan mencobanya. “Asemmmm….. Buah apa sih ini?”, seru Wira sambil menyeringai keaseman. Saya sendiri baru mencoba buah itu setelah kami makan nasi dan agak malam.

Ketika saya makan buah tersebut, saya merasakan rasa yang familier sekali. Saya bilang ke Wira, “rasanya kayak manggis.” Tapi bukan manggis sebenarnya yang ada di otak saya. Maksud saya adalah kecapi. Buah yang sudah jarang saya temukan di Jakarta. Akhirnya setelah dimakan lebih lanjut kami memutuskan buah ini memang kecapi.

Apa yang unik dari kecapi ini? Yang unik dari buah ini adalah ukuran buahnya yang sangat besar, sekitar 2-3 kali kecapi di Indonesia. Kira-kira sebesar jambu biji medan yang sering dijadikan manisan di Indonesia. Saya rasa itu yang membuat Wira tidak ‘ngeh’ kalau itu adalah kecapi.


Keunikan kedua adalah cara makan buah ini. Jika ingat jaman papa masih suka bawa kecapi sekarung dari kebun di Cileungsi, cara makannya adalah dibanting ke lantai sampai pecah atau dijepit di pintu. Dan yang dimakan adalah bagian bijinya. Rasanya asam manis tergantung tingkat kematangan buah tersebut. Kalau disini, buah itu dikupas kulitnya lalu dibelah-belah (seperti membelah jambu biji tapi tidak sampai terpisah). Dan kulitnya itu dimakan juga, bukan hanya bijinya seperti yang biasa saya makan (hanya bagian bijinya saja). Ketika saya mencoba buah ini, saya memakan kulitnya dan rasanya seperti kecapi. Dan ketika Wira membeli som tam ditempat langganan kami, ternyata ada orang yang memesan makanan mirip som tam tapi salah satu bahan yang dipakai adalah sih kulit kecapi ini. Ntah makanan apa itu, karena bahasa kami terbatas sehingga tidak bisa bertanya.

Kemarin saya terpikir untuk membuat tulisan ini dan bilang sama Wira untuk membeli kecapi lagi buat difoto. Hari ini Wira pulang dengan membawa kecapi. 

Selain memotret kecapi yang dibeli untuk foto tulisan ini, saya juga mencoba memakan bagian kulit kecapi tersebut. Ternyata kalau kita makan sekitar setengah ketebalan bagian dalam (yang dekat dengan biji) rasanya asam manis mirip bagian biji. Malah lebih dominan rasa manisnya. Sedangkan setengah bagian luarnya agak asam dan hambar. Jadilah akhirnya saya memakan kulit kecapi itu 🙂 Hahaha…dapat ilmu baru nih, jadi pengen coba kecapi yang di Indonesia :).

Kalo punya pengalaman makan kecapi selain yang biasa, silahkan share ya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *