Suatu akhir pekan pertengahan Juni 2011 kemarin, Wira diajak oleh salah satu pembimbingnya yang berasal dari Denmark untuk ikut jalan-jalan. Saya pun setuju untuk ikut serta. Rencana pergi kemana masih belum jelas. Sang pembimbing ingin pergi hiking di hutan. O..ooo… udah lama nih gak hiking. Terakhir hiking tahun 2009 di Situ Gunung (gak hiking beneran sih, tapi agak naik turun gunung gitu deh). Yang pergi saat itu Wira, Dan (pembimbing Wira), Op (gak jelas nulisnya gimana, dia orang Thailand, mahasiswa Dan di Kopenhagen) dan saya. 

Kami bertiga ngikut saja sama Op sebagai guide & supir kita hari itu. Tujuan pertama kami adalah Phu Kradueng National Park dan kemudian Chiang Khan.

Chiang Khan adalah suatu daerah di Thailand yang terletak dipinggir sungai Nam Kong (=Mekong) di Loei Province dan berbatasan dengan Laos. Daerah ini sendiri berada di daerah Isan (north east Thailand). Membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk mencapai tempat ini dari Khon Kaen. Disini kita bisa menemukan rumah-rumah kayu khas Thailand yang digunakan sebagai guest house, toko atau restaurant. Ketika masuk ke gang di daerah ini terkesan seperti kota di Jepang. Rumah-rumah kayu ini sudah direnovasi bahkan beberapa adalah bangunan baru. 

Ternyata daerah ini adalah salah satu daerah wisata karena ketika kami sampai sekitar 17.30, cukup banyak orang yang berjalan-jalan dan berfoto dibeberapa spot. Pemandangan di daerah ini sangat cantik, apalagi kami ada disana menjelang sunset. Disini bunga warna-warni bermekaran dan banyak sekali kupu-kupu yang terbang dan hinggap di bunga-bunga. Setelah cukup puas melihat-lihat, kami pun mencari tempat untuk menginap disini. Banyak pilihan guest house di daerah ini. Tinggal masuk satu-satu dan lihat tempatnya. Kalau cocok bisa langsung bernego dengan pemilik/penjaga penginapan. Setelah melihat beberapa tempat akhirnya kami putuskan untuk menginap disebuah guest house (saya tidak tahu namanya karena ditulis dalam huruf Thai) yang masih baru. Biaya menginap semalam 600 THB (setelah nego). Yang kami dapatkan sebuah kamar dengan ukuran sekitar 4m x 4m dengan kamar mandi didalam. Not so bad…

Untuk berkeliling daerah ini, biasanya menggunakan sepeda atau tuktuk. Beberapa penginapan juga menyewakan sepeda. Bisa juga dengan berjalan kaki. Disepanjang jalan dapat ditemukan berbagai toko dan pedagang kaki lima yang menjual makanan, souvenir, dll. 

Yang jadi kendala adalah makanan. Tidak banyak pilihan makanan disini, hanya ada beberapa restaurant saja. Karena kami tidak makan babi, maka memesan makanan harus menyebutkan kata-kata ‘tanpa babi’. Karena di Thailand, babi adalah daging yang biasa dimakan. Mereka tidak banyak mengkonsumsi sapi karena dianggap termasuk hewan besar dan tidak layak dimakan (disuruh kerja disawah saja :)). Masalah terjadi pada waktu sarapan hari berikutnya. Karena malam hari pesanan makanan kami hanya tom yum ikan dan nasi goreng udang dan ayam, waktu sarapan pagi kami pesan bihun dengan cumi dan bihun plus telur mata sapi. Pas makanan dihidangkan, kami agak ragu untuk memakannya karena ada potongan daging kecil-kecil yang tidak jelas apa. Ketika kami tanya pada Op, ternyata itu adalah daging babi. Wah…terpaksa pesan ulang deh… Pesanan berikutnya tidak pakai babi. Tapi ternyata si penjual berinisiatif untuk memasukkan udang, sedangkan Dan alergi udang. Terpaksa pesan ulang lagi… Yang ketiga, baru pesanannya sesuai. Wah…jadi sarapan termahal deh 🙂 karena kami membayar semua pesanan kami dan Op pesta besar dengan semua makanan yang kami pesan :).

Dari hasil searching di om Google, katanya daerah ini khas dengan kopinya dan disetujui oleh Wira dan Dan. Jadi kalo sempat mampir ke Chiang Khan, jangan lupa coba kopinya.

Kami kembali ke Khon Kaen sekitar pukul 13.00 keesokan harinya. Suatu pengalaman yang langka. Karena jika kami tidak pergi sekarang, belum tentu kami akan mengunjungi tempat ini.

Untuk info lebih lanjut tentang Chiang Khan bisa dilihat disini atau disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *