Dah lama nih gak nulis ato posting photo di multiply. Pengen banget nulis tapi belum sempet juga. Padahal ada cerita dari perjalanan sebulan yang lalu yang pengen di-posting. Untuk sementara yang singkat aja dulu deh ceritanya yang di-posting duluan. 

Cerita ini berawal pada suatu percakapan di pagi hari di meja makan. Pada saat itu saya sedang menyantap bubur ayam yang dibeli dari seorang tukang bubur ayam tentunya  Selama tinggal di rumah yang ini, saya belum pernah membeli bubur ayam Cirebon. Biasanya saya beli bubur ayam Tambun. Tapi karena pengen banget bubur ayam dan adanya tukang yang ini (bubur ayam Cirebon) jadi saya belilah 3 mangkok. Bukan buat saya semua kok. Saya membeli bubur untuk saya 1 mangkok, Kaysan 1 mangkok isi setengah porsi dan Ibu (nenek saya) 1 mangkok. Ibu kebagian juga bubur ini karena hari ini dia mau duduk di teras, sebagai hadiah saya belikan semangkok bubur dan habis. Ternyata buburnya enak juga rasanya.
Saat itu ada Ni Shanty di meja makan dan saya berkata “Ternyata enak juga ya bubur yang ini. Gue belum pernah beli nih.” Ni Shanty berkata, “kemana aja selama ini? Emang biasanya beli bubur ayam yang mana?” Singkat cerita bubur ayam berakhir pada penawaran Ni Shanty untuk pergi ke Bandung karena menurut dia bubur ayam di depan rumah Martanegara juga enak 🙂 Padahal dia males pergi naik travel tuh.

Setelah tanya punya tanya ke Wira, dia setuju untuk pergi ke Bandung tanggal 29 Desember 2008 sepulang Wira dari jaga. Ternyata, tanggal 29 itu Wira dapet rejeki banyak pasien, jadi urusan administrasi pun baru kelar menjelang siang. Setelah Wira sampe rumah dan makan siang, kami pun berangkat. Berangkat dari rumah Jatinegara Baru (JB) jam 13.15 WIB dengan menggunakan mobil mama (Honda Jazz) karena mobil kuning tercinta harus masuk bengkel untuk ganti oli, dan pasukan terdiri dari saya, Wira, Ni Shanty dan Kaysan. Sesuai dengan perjanjian sehari sebelumnya, saya yang akan nyetir ke Bandung.

Alhamdulillah perjalanan kami mulus tanpa satu halangan. Jalanan lumayan ramai tapi lancar. Dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam, kami sampai di Bandung (Jl. Riau) pukul 15.15 WIB. Pas bener 2 jam 

Tujuan pertama di Bandung adalah rumah buyut Kaysan di jalan Riau. Karena kami sudah ditunggu disana oleh ayah Kaysan, Mbak Dita dan tim yang lain. Di jalan Riau, kami dapat pertunjukan yang cukup memukau dari Adin (bener gak ya tulisannya?) berupa permainan hula hop. Siapa sih Adin ini? Dia sepupu Kaysan dengan usia 4 tahun lebih, 5 tahun belum sampai. Usut punya usut, Adin mampu memainkan hula hop itu sampai sekitar 200-300 putaran. Mainnya pun santai bak Titi Kamal bermain hula hop di iklan Sanken. Lebih hebatnya lagi, dia bisa mengatur kecepatan putaran hula hop-nya dan sambil jalan-jalan keliling rumah. Saya bener-bener amazed melihatnya. Karena Yani saja yang nota bene paling hebat main hula hop di rumah JB, gak ada apa-apanya dibandingkan dengan Adin. 

Dari jalan Riau, kami pindah ke jalan Martanegara di daerah Buah Batu. Ada apa disana?  Ada rumah orangtuanya Mas Adi tentunya  Siapa Mas Adi? Dia itu ipar saya, suami Ni Shanty, ayah Kaysan.  Hari ini kita nginep disini. Karena besok pagi mau mencoba bubur ayam depan rumah Martanegara 🙂 seperti tawaran pertama sebelum pergi ke Bandung. Menu makan malam hari ini agak membingungkan karena waktu di jalan Riau sempat tercetus untuk makan di Warung Lela. Tetapi ketika sampai di Martanegara, saya dan Ni Shanty sibuk membayangkan makan wedang ronde di Bakmi Jogja. Tapi karena ragu apakah Bakmi Jogja buka pada hari itu (kalau di Jakarta, Bakmi Jogja tutup hari senin), kami memutuskan makan wedang ronde di tempat lain.

Akhirnya menu makan malam adalah Bubur Ayam Pak Otong di jalan Sudirman dan Wedang Ronde di jalan Alkateri. Bubur Ayam Pak Otong ini seperti apa ya? Mmmhhh…pernah makan bubur ayam di jalan Tanjung Jakarta? Kurang lebih mirip seperti itu. Bedanya disini buburnya sedikit lebih cair dibandingkan bubur ayam jalan Tanjung. Ayamnya banyak, setiap suap ada ayamnya. Rasanya sesuai dengan selera saya Harganya kalau tidak salah sekitar Rp. 10.000/mangkok. Kurang tahu pastinya berapa, soalnya ditraktir sama Ni Shanty.  Perjalanan selanjutnya mencari Wedang Ronde. Sesuai inceran saat menuju jalan Sudirman, kami menuju jalan Alkateri. Disini ada penjual wedang ronde yang ramai dikunjungi pembeli, padahal tempatnya benar-benar biasa banget. Sayangnya sesampai disana, wedang ronde yang kami incer sudah habis, hanya tersisa ronde yang kecil-kecil saja. Padahal kami mengincer ronde yang berukuran besar dengan isi kacang. Tapi memang pedagangnya jujur, dia menyarankan kami untuk pergi ke Cibadak. Menurut informasi penjualnya, di Cibadak masih lengkap rondenya. Jadi kami pun meluncur ke Cibadak. Ditempat ini, penjual Wedang Ronde ini berada di depan toko kertas (kaki lima) dengan antrian yang cukup panjang. Wedang ronde disini merupakan cabang dari jalan Alkateri. Setelah menunggu agak lama, wedang ronde pesanan kami pun datang. Terdiri dari 3 ronde besar dan banyak ronde kecil, dengan wedang jahe yang hangat cenderung panas, rasa jahe (ya iyalah) dan manis, wedang ronde ini enak untuk dinikmati di malam yang dingin di Bandung. Harganya kalo gak salah Rp. 9000/mangkok. Tapi masih pengen wedang ronde Bakmi Jogja duong.  Setelah kenyang kami pun meluncur balik ke Martanegara sambil merancang rencana wisata kuliner esok hari.

Hari kedua, tepatnya jam ke-17 kami di Bandung. Saya pun menikmati bubur ayam yang dipromosikan ni Shanty. Bubur ayam ini berbeda dengan bubur ayam Pak Otong semalam. Bubur ayam ini menggunakan ati ampela yang sudah dipotong-potong selain ayam yang disuir, dan biasanya menggunakan kecap manis (tapi punya saya gak pake, gak suka). Rasanya enak. Agak mirip bubur ayam cirebon, tapi beda. Agak susah nih deskripsinya. Harga juga gak tau, abis dibeliin sama si bibi.

Rencananya kami akan makan siang agak lebih cepat di Warung Lela, tapi karena sudah beberapa bulan terbiasa bangun siang, akhirnya baru berangkat ke Warung Lela jam 11. Sampai disana sekitar jam 12an. Saya memesan Bakmi Ayam Jamur Special. Yang bikin special karena selain bakso ada siomay dan tahu juga. Rasanya yummy… Porsi cukup buat saya. Harga pun masih masuk diakal. Dengan desain dan suasana yang cozy, tempat ini cocok buat nongkrong berlama-lama dan foto-foto. Suasananya bernuansa etnik Bali (ato Jawa ya?) Pengunjungnya ramai. Kekurangannya adalah tempat parkir yang minim dan jalanan yang terlalu kecil (maklum di dalam perumahan). Disini Kaysan teler berat, jadi tidur aja deh selama kami makan.

Dari Warung Lela, perjalanan berlanjut ke Selasar, Galeri Sunarya. Ditempat ini, kami disambut dengan kreativitas tingkat tinggi. Masuk ke galerinya gratis. Tapi gak boleh motret di dalam galeri. Jangan lupa isi buku tamu ya! Selain galeri, tempat ini sangat menarik untuk berfoto (diluar galeri tentunya). Musholanya dibangun dengan kreativitas tinggi. Dengar punya dengar, untuk bikin mushola aja ada kompetisinya. Ada kafe yang cozy buat nongkrong. Ada gift shop yang menyediakan berbagai buku yang berhubungan dengan art, repro lukisan, cindera mata ala galeri sunarya seperti kaos, dll. Selain itu ada juga mainan-mainan lucu yang boleh kita coba. Ada robot-robotan yang jika diputar tombolnya, akan bergetar atau melangkah seperti ulat kaki seribu. Ada juga suatu alat (gak tau namanya) yang bisa dipakai mencetak. Bisa buat cetak muka, tangan, bikin smiley faces dll. Kami pun mencoba mengabadikan muka kami dicetakkan itu  dan tidak lupa difoto . 

Setelah puas melihat, berfoto, dan bermain di Selasar, kami meluncur ke Ciwalk. Karena sudah kelaparan, Kaysan makan di Platinum. Porsi makanan yang dipesan Combo something  dan dihabiskan sendiri. Kami hanya bisa mencoba sedikit sambil dipelototin Kaysan Setelah Kaysan kenyang, perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi stand Bandung Pisan punya Mahanagari. Mereka punya kaos-kaos khas Bandung yang lucu-lucu dan unik. Sedikit belanja-belanji di Ciwalk dilanjutkan dengan nongkrong di J.Co. Makan donat, minum Thai Tea dan nongkrong di J.Co dilakukan sambil menunggu travel yang membawa berkas buat mas Adi datang. Setelah berkas didapat, perut kenyang dengan donat, kami pun kembali ke Martanegara.

Sampai di Martanegara sudah jam setengah 9 malam. Karena Wira akan jaga besok siangnya, maka saya dan Wira memutuskan untuk kembali ke Jakarta malam ini. Dengan berdoa semoga jalanan tidak macet seperti arus balik ke Jakarta sehari sebelumnya, kami menempuh perjalanan pulang. Alhamdulillah tidak macet. Keluar tol Cipularang dan masuk tol Cikampek, perjalanan kami disambut dengan truk dan bis yang sangat pelan jalannya. Ditengah perjalanan inilah kami memutuskan untuk berbelok ke Karawang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *