Kelamaan berkutat di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) membuat saya merasa perlu menulis menulis hal ini. Sebenernya dah dari dulu pengen nulis, tapi baru kali ini ada kesempatan, soalnya kali ini harus kembali berkutat di RSCM karena nenek yang sakit.

7 hal yang tidak kusuka dari RSCM (yang baru kepikiran, masih bisa nambah):

1. Ruang Tunggu
Tidak ada tempat untuk keluarga menunggu dengan nyaman. Terutama di ruang perawatan dan ICU. Seharusnya pihak rumah sakit menyediakan tempat yang layak untuk keluarga yang menunggu pasien. Tempat untuk bisa beristirahat dengan layak. 

Lihat saja, semua keluarga yang terdampar di selasar ICU, karena di RSCM tidak ada tempat menunggu yang layak, even di ICU, tidak ada tempat menunggu. Semua tempat yang dipakai oleh keluarga untuk beristirahat adalah jalan umum. Terkadang ketika kita membawa pasien ke ICU, perjalanan sedikit terhambat, karena yang gelaran harus menggulung tikar dll supaya kita bisa lewat. 

Di gedung perawatan baru, ruangan yang digunakan untuk menunggu pada saat keluarga harus bergantian saat membesuk pasien adalah sebuah ruang di sub-basement dengan ventilasi yang kurang dan panas, sehingga membuat napas menjadi sesak dan tak heran kalo sampe ada yang pingsan. Terutama pada saat jam besuk.

2. Kamar Mandi
Jumlah kamar mandi yang layak pakai rasanya sangat terbatas. Komentar kakak saya, “RSCM udah kayak WC umum raksasa.” Bau pesing yang sangat menyengat hidung bisa tercium di banyak tempat di RSCM. 

Lokasi kamar mandi umum yang saya ketahui sampai saat ini dan menurut saya kurang layak pakai hanya ada di samping OK IBP, musholla, poliklinik dan IGD lt 1. Bayangkan: jumlah pasien yang dirawat di RSCM ditambah pasien rawat jalan dikalikan dengan minimal 2 orang penunggu dibagi jumlah kamar mandi umum sama dengan WC umum yang luar biasa bau dan pojokan-pojokan RS yang bau pesing. Seperti kakak saya bilang: WC umum raksasa.

Masih beruntung para dokter yang mempunyai fasilitas yang sedikit lebih baik dari WC umum. Tapi sayangnya perencanaan pembuatan kamar mandi tersebut kurang baik (mungkin di korupsi pejabatnya) sehingga seringkali kamar mandi-kamar mandi tersebut ditutup karena harus di renovasi karena air buangannya merembes kemana-mana, ke lantai di bawahnya, ke sekeliling kamar mandi dll. Yang tidak kalah seringnya adalah air buangan yang meluap sehingga air tergenang. Menjijaikan.

3. Tempat Sampah
Menurut hasil pengamatan saya, tempat sampah di sekitar RSCM sangat minimal. Sehingga selain jadi WC umum raksasa, RSCM juga jadi tempat sampah raksasa.

Kemarin terjadi sebuah gumaman dari seorang perawat di daerah IBP. Dia kesal melihat ada gelas bekas minum kopi yang ditinggalkan oleh orang yang duduk di ruang tunggu. “Siapa sih yang meninggalkan gelas disini (diatas kursi-red) sembarangan?” gumamnya sambil melihat ke sekelilingnya. Karena tidak ada yang bisa disalahkan, dia mengambil gelas itu dan membuangnya ke taman di samping ruang tunggu. Well, itu menunjukkan, bahkan perawat senior yang sudah bekerja bertahun-tahun di RSCM saja tidak tahu letak tempat sampah dimana, sehingga dia sampai membuang sampah sembarangan. Jadi apa bedanya perawat itu dengan orang yang meninggalkan gelas tadi di kursi?

4. Birokrasi yang Berbelit-belit
Saya sebagai orang yang berkutat dengan RSCM, paling males membawa keluarga berobat ke RSCM, karena birokrasinya berbelit-belit. Sepertinya motto RSCM adalah kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah! Sehingga semua urusan sepertinya rumit di RSCM. 

5. Penunjuk Jalan atau Arah yang Terbatas
Masalah yang satu ini sudah sejak jaman dahulu kala. RSCM sudah seperti labirin raksasa, sehingga penunjuk jalan sangat diperlukan di tempat ini. Untuk orang yang tingkat disorientasinya tinggi, mereka bisa berputar-putar di RSCM dari pagi sampai sore. Terlalu banyak belokan membuat saya kasiha dengan mereka, karena pasti informasinya berbelit-belit. Contohnya bila kita mau ke PW dari IGD (untuk keluarga pasien, karena kalo dokter bisa tembus jalan pintas dengan password snelly putihnya :)): bapak/ibu keluar dari IGD kearah parkiran lalu belok ke kiri, jalan terus sampai ketemu sebuah gapura dengan tulisan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo disebelah kiri dan berbelok ke kiri, lalu sekitar 10 m ada pintu disebelah kiri, bapak/ibu masuk melalui pintu itu, trus jalan mengikuti lorong sampai bertemu patung di sebelah kanan dan berbelok kanan, jalan terus sampai mentok belok kiri, mentok belok kanan, trus lagi sampe mentok belok kanan lagi, trus langsung belok kiri, disitu bapak/ibu tanya deh sama satpam. 

Membutuhkan 6 sampai 7 baris tulisan untuk memberitahu orang jalan dari IGD sampai PW. Terlalu berbelit-belit. Dengan adanya petunjuk arah, tentu akan memudahkan orang untuk mencapai tempat itu.

6. Tidak Ada Pintu Utama
Rumah sakit ini memang agak aneh. Pintu utama yang dulu berada di tengah-tengah bangunan dengan tanda patung dada bapak Cipto Mangunkusumo sekarang sudah tidak jelas keberadaannya. Hal ini disebabkan karena pembangunan/renovasi yang tidak terkonsep dengan baik. Tidak ada masterplan yang jelas. 

Saat ini kesannya, pintu masuk itu berada di IGD, padahal sebenarnya dia ada di sebuah gapura dengan tulisan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. 

7. Perawat Kurang Senyum
Entah karena lelah yang disebabkan oleh pasien yang berjubel, menurut pengamatan saya, banyak perawat yang kurang senyum pada pasien maupun keluarga. Terkadang dokter pun kena jatah cemberutnya (terutama bagi yang membawa pasien).

Padahal kalo dipikir, inikan pelayanan harusnya dilakukan dengan hati gembira dan tulus (atau paling tidak pura-pura gembira/tulus lah di depan keluarga pasien). Mereka pasti senang melihat kalau perawat tersenyum daripada mendengar suara bentakan dan bibir melengkung ke bawah dan alis yang menyatu 🙂 

Semoga di masa depan bisa menjadi lebih baik.

One Comment

  1. Hari Lutfi

    Hal yg sangat mengganggu pengguna RSCM,
    Fasilitas parkir yg sangat tidak memadahi.
    Kami pengantar pasien tidak bisa masuk ke pintu IGD harus memutar utk cari parkir yg dipakai oleh karyawan RSCM, dari pintu masuk ke pintu keluar memakan waktu lebih dari 5menit, sehingga kami hrs berkali-kali bayar parkir, kurang masuk akal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *