Beberapa waktu yang lalu, di mailing list Greenlifestyle, pernah terlontar sebuah topik yang berjudul “TANYA: apa yang harus dilakukan kalo lihat orang buang sampah sembarangan?” Cukup banyak respon dari e-mail pancingan ini, antara lain:

  • “saya suka miris klo ngeliat pengendara mobil mentereng yg dgn santainya buang puntung rokok, ato bungkusan plastik ke jln…yak olloooo….rasanya pengen nyusul ke depan boilnya trus teriak pake megaphone, “Iya…bapak/ibu yang pake mercedes merah no. B. 360 DH, pls deh sampahnya dipungut lagi!”…hehehe dah kyk di terminal bis. kli2 dgn begitu doih jd malu….atao malah cuek?!.”
  • “Kadang-kadang di mal sering ada orang yang clingakclinguk terus ninggalin sampahnya (biasanya cup kertas atau kotak makanan) di lantai, di pojokan, dll (mungkin juga karena di mal kadang-kadang ada kekurangan tong sampah yang akut). Seringnya aku pungut, terus aku samperin ke orangnya, “permisi, ini ada barang bapak/ibu/dlldsb yang ketinggalan.” Kadang-kadang dia cuma menatap saya kayak saya orang gila terus ngeloyor pergi, ada juga yang bilang, “Loh, itu sampah kok.” Paling saya jawab, “O… saya kira ketinggalan. Mau saya bantu taruhkan ke tong sampah?” sambil nunjuk ke tong sampah, kalau kebetulan dekat, atau ya nggak nunjuk kalau memang di dekat sana nggak keliatan tong sampah.”

Pengalaman di atas pasti pernah terjadi pada kita. Kalau itu terjadi pada anda, apa respon yang akan anda lakukan?

Pengalaman ini sering terjadi pada saya. Tapi yang ada saya hanya “membatin” saja kalau melihat orang yang melakukan itu. Pengen rasanya menegur, tapi gak berani.

Sampai pada suatu hari Rabu pagi, saya berada di dalam mikrolet M01 jurusan Kampung Melayu-Senen dengan 4 orang mahasiswa BSI. Di tengah perjalanan, salah satu mahasiswa itu memberikan permen ke teman-temannya. Dan yang terjadi berikutnya sudah bisa ditebak, mereka membuang bungkus permen ke lantai mikrolet dengan santainya tanpa rasa bersalah. Padahal kalo dipikir-pikir, mereka pasti tahu kalo buang sampah itu harus di tempat sampah.

Pada saat itu, rasanya pengen sekali saya bilang ke mereka “kalo buang sampah di tempat sampah dong, kalo gak ya gak usah makan permen”. Tapi karena saya sudah hampir sampai di tujuan dan isi mikrolet terlalu “empet-empetan”, akhirnya kata-kata itu tidak pernah terlontar. Sepanjang hari itu, saya jadi kepikiran tindakan mahasiswa-mahasiswa itu. Ketika saya sampai di rumah, saya berdiskusi dengan kakak saya tentang hal itu, dan saya berjanji kalau ada orang yang membuang sampah sembarangan, saya akan menegurnya.

Ternyata Allah mendengar janji saya itu, karena pada pagi harinya (Kamis) ketika saya berangkat sekolah dengan metromini 506 jurusan Pondok Kopi- Kampung Melayu, janji saya diuji. Saat itu saya memilih metromini yang masih kosong sehingga saya bisa duduk dengan nyaman dan membaca bahan-bahan ujian saya. Saat itu saya duduk di baris sebelah kanan dekat jendela. Sementara di baris sebelah kiri dekat lorong, duduk seorang ibu-ibu berjilbab seusia ibu saya (sekitar akhir 50 atau awal 60an). Saat itu, baru sekitar 5 orang yang ada di dalam metromini. Tak lama setelah saya naik, sang ibu mengeluarkan sebuah buku bacaan agama dan mulai membacanya, ketika dia menemukan selembar kertas yang dia rasa tidak terpakai lagi, dengan santai dia buang kertas itu ke lorong metromini. Pertama yang saya rasakan adalah pertentangan dalam batin saya, antara ingin menegur si ibu sesuai janji saya atau tidak karena rasa tidak enak pada si ibu. Setelah sekitar 5 menit memikirkan apakah akan saya tegur atau tidak dan tidak ada tanda-tanda si ibu bakal mungut lagi kertas itu, saya putuskan untuk mengambil kertas kecil itu dan berkata “maaf bu, kertasnya jatuh”. Si ibu dengan tampang tersipu malu mengambil kertas itu dan berkata “oh bukan kok”. Mungkin maksudnya bukan kertas penting. Lalu saya katakan, “oh…itu sampah! kalo gitu buang di tempat sampah dong, jangan di metromini. Ini kan bukan tempat sampah”. Kertas itu lalu di remas-remas oleh si ibu. Pada saat itu, saya pikir, dia akan masukkan ke dalam tasnya dan dibuang nanti kalo ada tempat sampah. Ternyata tidak sampai 5 menit kemudian ketika saya menengok ke arah si ibu, saya lihat kertas itu sudah berada di lantai metromini lagi, didepan kaki kirinya. Dan gak lama kemudian, si ibu mengambil tissue dan membuang plastik pembungkus tissue tersebut di samping kertas tadi. Rasanya…..ingin NGAMUK…..tapi karena penumpang metromini sudah bertambah banyak, agak sulit buat saya untuk menegur ibu itu selain karena sudah terhalang orang, juga karena saya tidak ingin membuat si ibu malu di depan orang banyak (takut kualat, soalnya mau ujian, ntar gak lulus lagi :)). Akhirnya terpaksa saya biarkan saja si ibu berlalu. Yang paling penting, saya sudah menjalankan janji saya.

Begitu saya sampai di kampus, langsung saya telpon kakak saya dan bercerita tentang hal tersebut. Yang ada kita ketawa-ketawa aja. Ternyata dibutuhkan EFFORT yang cukup besar untuk menegur seseorang supaya tidak buang sampah sembarangan, dan untuk mendapat respon seperti itu saja.

Ternyata benar bahwa sifat orang itu tidak dapat diubah lagi setelah dia dewasa. Yang membuat saya kecewa pada ibu itu karena dia sebagai orang yang kelihatannya berpendidikan dan menjalankan agama dengan baik, tapi ketika urusan dengan sampah dia lupa pepatah “bersih itu sebagian dari iman”. Bersih itu bukan bersih diri tapi juga lingkungan sekitar kita. Gak heran deh kalo Jakarta banjir mulu, wong buang sampah aja sembarangan. Jadi teringat perkataan ayah teman saya yang bilang bahwa Jakarta itu adalah tempat sampah terbesar di dunia 🙂

Setelah membaca tulisan saya tadi, bagaimana sikap anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *