Kali ini saya akan menuliskan dalam bahasa Indonesia, karena cuma dalam bahasa ini saya bisa menyampaikan perasaan geram saya dengan puas.

Pertama-tama, hari ini saya pergi mengantar Mama ke RS Harkit. Dan sepanjang perjalanan pergi dan pulang itu, banyak hal yang membuat saya menjadi geram. Banyak sekali orang yang nyetir dengan menyerempet mobil yang saya kendarai. Apakah saya menyetir segitu parahnya hari ini? Padahal saya berjalan dengan kecepatan yang biasa2 aja, tidak pelan dan tidak juga kencang. Beberapa kali saya harus membunyikan klakson supaya yang nyerempet saya bisa sadar kalo dia sudah hampir nabrak saya.

Yang paling bikin kesel adalah mobil Suzuki Aerio berwarna merah dengan plat nomor BE 66 GU. Mobil ini ada stiker lambang polisi di kaca belakang dan di dekat plat mobil belakangnya ada tempelan lambang polisi juga. Yang membuat saya geram adalah ketika saya berada di pertigaan kramat raya dengan raden saleh (lampu merah), mobil ini pindah jalur seenak jigong dari jalur no 2 dari kiri ke jalur no 5 dari kiri (atau jalur paling kanan), tanpa memberi tanda (sign) dan mobil yang saya kendarai diserempet sampe nyaris nabrak. Udah gitu mending jadi lebih cepat. Padahal gak juga, orang akhirnya mobil saya dan dia cuma selisih satu mobil di lampu merah berikutnya (pertigaan kramat raya dan paseban). Yang lebih gak ada OTAK-nya, dia muter balik di lampu merah itu, padahal jelas-jelas dilampu merah itu ada tanda dilarang muter balik. Gue semakin yakin yang nyetir emang GAK PUNYA OTAK. Mungkin otaknya ditinggal di rumah pagi ini. Sayang hari ini saya tidak membawa kamera saya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah kalau ada lambang polisi itu berarti boleh pindah jalur tanpa memberi tanda? atau boleh puter balik ditempat yang ada tanda dilarang berputar? Padahal kalau yang mengendarai mobil itu memang polisi, bukankan dia harus memberi contoh yang baik pada masyarakat! Bagaimana negara ini mau maju kalau penegak hukumnya saja berbuat salah (yang disengaja). Kalau yang mengendarai mobil itu bukan polisi, apakah berarti orang yang didalamnya boleh berbuat seenaknya karena mereka pake kendaraan yang berlambang polisi! Karena, keponakan saya yang baru berumur 4 tahun saja tahu bahwa gambar panah berbentuk U terbalik dan dicoret garis merah itu artinya DILARANG MUTER BALIK. 

Hal yang pernah saya liat juga adalah POLISI dengan mobil dinas yang warnanya coklat dan bernomor body yang tidak menggunakan SEAT BELT. Santai aja tuh tampangnya. Lalu saya iseng kirim SMS ke 1717 untuk bertanya “apakah polisi yang pake mobil dinas dan gak pake seat belt itu bisa ditilang, karena saya melihat pengemudi mobil dengan nomor….. tidak pakai seatbelt”. Jawaban dari operator “Bisa, Pak”. Dan jawaban ini saya terima sampe 40 kali. Waktu saya cek, tagihan HP saya (kebetulan pake pascabayar, jadi bisa liat detail telpon dan SMS nya), ternyata ke 40 sms balasan dari polisi itu ditagihkan ke telpon saya. Sejak itu saya TIDAK PERNAH mau menghubungi polisi pake SMS 1717. RUGI, informasi yang disampaikan tidak ditanggapi malah kita kena charge. Sikap mereka brengsek, kita yang disuruh bayar. Giliran kita brengsek, kita juga yang disuruh bayar. Dasar mau enaknya aja.

Tulisan ini hanya unek-unek saya saja. Dan alasan lain saya menuliskan dalam bahasa Indonesia karena saya tidak mau memperburuk pandangan dunia tentang Indonesia. 
Saya percaya, masih ada POLISI di Indonesia ini yang bener kerjanya. Kalau ada POLISI atau saudaranya POLISI yang membaca cerita ini, semoga cerita ini bisa jadi masukan untuk berbuat dan menjadi lebih baik. Saya juga bukan manusia yang sempurna, tapi saya selalu berusaha untuk berbuat yang terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *